Berkat

Mata kecil itu menatap penuh minat pada satu titik ditengah kerumunan pagi itu, dahinya berkerut berpikir keras, pergulatan terjadi dalam hatinya yang polos betapa ia menginginkannya namun ia cukup tahu ia takkan mampu mendapatkannya saat ini, aku hanya perlu bersabar rapalnya berulang dalam hati membuatnya mampu berdiri berjam-jam ditempat yang sama; panas yang mulai muncul dan bau menyengat seolah tak pernah ada dan memang tak dianggapnya —karena begitu bersahabat dengan harinya.

Detik demi detik ia tetap setia melihat menanti penuh harap sesekali ia meletakkan punggung telapak tangannya beberapa mili tepat diatas mata hitamnya —menghalau sengatnya sinar matahari yang tumpah seolah berniat membakar bumi tempatnya berpijak.

Hingga saatnya tiba, saat dimana para penjual di pasar mulai bersiap menutup lapak mereka — saat dimana ia memulai aksinya.

“Bolehkah kentang yang sudah hitam itu untukku?” Tanyanya menunjuk kentang yang sengaja dipisahkan dengan kentang segar lainnya sambil menatap penuh harap pada penjual sayur mayur itu berharap mampu menggugah sisi kemanusiaan mereka.

Ia berhasil, hati pedagang itu tersentil diraihnya dua buah kentang yang berwarna kehitam-hitaman dilemparkannya, “ambillah ini bocah?” Ucap pedagang itu lalu kembali berkonsentrasi melanjutkan aktivitasnya.

Bocah itu tersenyum lalu berjalan kelapak lain berharap keuntungan yang baru saja diterimanya berlanjut hari itu.

…..

“Buk, aku membawa beberapa sayuran untuk kita makan hari ini.” Teriaknya riang berlari penuh semangat walau peluh membasahi wajahnya, dibukanya dengan tergesa-gesa pintu reot yang sebagian kayunya habis dimakan rayap itu, “buk aku dapat sayur.” Ucapnya sekali lagi lalu meletakkan sayuran yang didapatnya dengan hati-hati seolah itu barang berharga diatas meja persegi tanpa taplak diruangan petak yang tak tertata sama sekali.

“Sabar buk aku akan memasaknya untuk ibuk.” Ucapnya lalu membelai rambut putih dari sosok yang tergeletak diatas anyaman dipan beralaskan bantal busuk, “tunggu ya buk.” Ucapnya lagi membuat mata sosok yang disebutnya ibu itu berkaca-kaca dan menganggukkan kepalanya kecil.

Lalu anak kecil polos itu mulai memasak sayur layu yang didapatnya atas belas kasihan pedagang dipasar dengan senyum dan penuh rasa syukur atas kebaikan Tuhan hari ini sambil merapalkan doa yang selalu sama sejak 3 tahun yang lalu yakni kesembuhan ibuk.

FIN

Cuap-cuap author Anna.dee
Setelah beberapa minggu gak menggerakkan jari,
anggap aja cerita aneh ini sebagai pemanasan hehehehe.
Typo dan Eyd yang tidak sesuai memang selalu ada karena masih belajar.

Advertisements

2 thoughts on “Berkat

  1. baguuuuuuus, inspiratif dan menyentuh…
    ini terbaik 🙂
    dan ah~ sgt terharu dgn bocah sekecil itu dia bisa memikirkan ibunya…

    nice short story ❤

    ditunggu kry selanjutnya~

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s