Takdir

20140716-061926 PM-65966794.jpg

Mikael : i Love you.

Ku baca sepenggal sms dari kekasihku, Pria ku ini tak pernah gagal membuatku tersenyum, dan tak pernah gagal membuatku merona, tiga kata itu selalu diucapkan nya setiap hari namun tak pernah membuatku bosan sedikit pun.

i love you too, bear

balasku, Bear —panggilan kesayanganku untuknya, karena dia hangat seperti beruang, beruang yang selalu membuat cintaku padanya semakin bertambah setiap hari.

Kami telah lama saling mengenal namun itu bukan alasan aku jatuh cinta padanya, pribadinya yang hangat dan dingin di saat bersamaan membuatku nyaman berdekatan dengannya.

“Aku akan menemui mu hari ini.” Ucapnya dengan suara riang melalui saluran telepon dapat kubayangkan senyum mengembang diwajah tampannya.

“Memangnya kau sudah bisa keluar dari rumah sakit hari ini?” Tanyaku; sudah seminggu ini dia dirawat di rumah sakit karena penyakit yang dideritanya.

“Yup, aku sudah boleh keluar siang ini, karena itu aku akan menjemputmu di kampus sore nanti.” Jawabnya penuh semangat, “kau tenang saja, aku akan diantar supir.” Lanjutnya seolah tau apa yang akan aku katakan berikutnya.

“Kau ini, hari ini kau istirahat saja dirumah setelah kuliahku selesai aku akan kerumah mu, lagi pula aku kangen pada Albert adikmu yang menggemaskan itu, setiap aku ke rumah sakit aku tak bertemu dengannya.” Pintaku yang aku tahu akan sia-sia mengingat betapa keras kepalanya kekasihku ini.

“Kita akan kerumah bersama setelah aku menjemputmu kalau begitu.” Beginilah ia; keras kepala tidak dapat dibantah apapun keinginannya harus terpenuhi —tidak jauh beda dengan sifatku, dan aku bisa apa lagi selain mengijinkannya.

…..

Pasti ada yang tidak beres, tidak biasanya El —pacarku biasanya dipanggil telat seperti ini, aku mulai gelisah pasalnya ini sudah dua jam dari waktu bubarnya kuliahku namun ia belum juga muncul, tidak ada SMS, Kakao Talk, atau bahkan telepon memberitahu bahwa ia terlambat.

Entah sudah berapa kali aku mengecek jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiriku, memeriksa handphone siapa tahu ada pesan masuk darinya dan semua nihil, perasaan ku semakin tidak enak saja, dengan cepat kurogoh handphone dari tas ku lalu menekan angka – angka yang telah kuhapal diluar kepala namun tak diangkat, lalu kutekan kembali angka yang sama dan tetap tak diangkat, lalu segera kutelepon rumahnya.

“Halo.” Terdengar suara anak kecil yang mengangkat, ia pasti Albert adik dari El.

“Bet.” Panggilan akrabnya, “ini kak Anna, apa El ada dirumah?” Tanya ku cepat.

“Oh kak Anna, El sudah berangkat dari tadi ka.” Jawabnya, adik kakak ini memang saling memanggil nama berbeda dengan adik kakak pada umumnya, “memang belum sampai kak?” Lanjutnya.

“Belum bet, kakak sudah menunggu sejak tadi tapi El belum datang juga.” Jawabku pikiranku semakin kalut karena jarak rumah El dan kampusku bisa dibilang cukup dekat, entah kenapa perasaanku tak enak seperti ini.

“Padahal El naik motor loh kak, tadi sampe mama marah karena El ngotot naik motor padahal baru pulang dari rumah sakit.” Jelasnya yang sontak membuat dada ku berdebar tak menentu.

4 jam sudah namun ia belum juga tiba, bahkan kuku jempol yang mati-matian ku panjangkan kini sudah memendek karena ku gigit saking resahnya, berulang – ulang kuhubungi tak ada jawaban, berulang ku sms tak ada balasan ia tidak pernah seperti ini tanpa kusadari air mata mulai tumpah membasahi pipiku —aku sungguh takut jika terjadi sesuatu padanya, seharusnya tadi ia tak perlu menjemputku, seharusnya aku melarangnya tapi aku sadar seharusnya akan tetap menjadi seharusnya, pandangan ku mulai mengabur karena air mata yang terus turun, saat ini hanya berdoa yang bisa kulakukan.

Jarum jam menunjukkan saat ini sudah pukul 10 malam dan aku masih dikampus menunggunya —hanya tinggal aku dan satpam yang berada disana, dinginnya udara malam tak lagi kurasakan hanya kabar darinya yang aku butuhkan sekarang —hanya itu, ku periksa handphone ku ternyata batreinya telah habis pantas saja tak ada yang menghubungiku sejak tadi, tepat jam 11 malam aku memutuskan untuk pulang.

Karena malam semakin larut dan sudah tidak ada lagi kereta api —transportasi yang biasa kugunakan sehari – hari membuatku terpaksa menggunakan taksi jika El tahu ia pasti akan mengomel dan terus mengirimiku pesan agar aku tak tertidur di taksi, menurutnya aku yang tertidur itu sangat manis kemungkinan dapat membuat supir taksi kalap, itulah dia dengan semua sifat protektif nya —tapi justru itu yang membuatku jatuh cinta, tapi khusus hari ini ia tak perlu khawatir karena aku tak mungkin tertidur di taksi ini karena semua pikiranku saat ini sudah sibuk memikirkan keberadaannya yang bagai hilang ditelan bumi.

……

“Shalom.” Salamku begitu sampai dirumah, kulihat ibu bapakku masih belum tidur dan sekarang mereka terduduk seperti sedang menungguku, “belum tidur bu, pak?” Tanyaku.

“Bagaimana keadaan Mikael nduk?” Tanya ibu padaku dengan raut gelisah yang justru membuatku semakin bingung.

“Maksud ibu?” Tanyaku

“Loh kamu bukan dari rumah sakit?” Tanya ibu yang semakin membuatku tak mengerti, “tadi Mama El menelepon ibu mengabarkan El kecelakaan, motornya tertabrak Truk, sekarang ia di rumah sakit Kasih Bunda.” Jelas ibu ketika melihat wajah bingungku yang kentara.

Tanpa berpikir panjang lagi langsung kuraih kunci mobil yang tergeletak didalam guci kecil diruang tamu —tempat kami biasa menyimpan kunci lalu berlari dengan cepat, dapat kulihat wajah ibu dan bapak yang khawatir, “hati-hati nduk.” Ucap bapak.

“Sialan, kenapa handphone sialan itu harus mati.” Aku sungguh kalut mendengar berita dari ibu, air mataku tumpah tak dapat kutahan lagi, dadaku sakit aku tak tahu lagi harus berpikir apa tujuanku saat ini hanya satu —rumah sakit.

Kuhentikan mobilku dengan serabutan lalu kuserahkan kuncinya pada salah satu petugas valey disana dan berlari dengan segera menuju recepsionist bertanya dimana pasien bernama Mikael ditempatkan dan bergegas menuju tempat yang ditunjukkan.

Kulihat ada Bet disana sedang terduduk diluar ruangan, kepalanya menunduk menatap lantai seolah – olah ada yang menarik disana, “Bet.” Panggilku, kepalanya mendongak ada air mata yang tergenang yang sepertinya berusaha ia tahan. “Bagaimana keadaan El?” Tanyaku, ia tak menjawab hanya menggelengkan kepala dan air mata itu akhirnya tumpah, lalu ia pergi berlari meninggalkan ku yang semakin kalut melihat ekspresinya.

Dengan tangan yang bergetar kuputar kenop ruangan bernomor 115 itu lalu dengan langkah tertatih aku memasuki ruangan itu, semua orang diruangan itu memandangku dengat tatapan sedih, mata mereka memerah karena lelah menangis, kulihat mama El disana terdiam tidak menangis seperti yang lain tapi pandangannya mengosong raganya disana namun jiwanya entah kemana.

Lalu aku semakin mendekat menuju ranjang berseprei putih, mataku melebar melihat siapa disana, “dia bukan El.” Ucapku saat melihat siapa yang terbaring disana, wajah yang membengkak lebam dimana – mana, bola mata yang nyaris keluar —dia bukan kekasihku, kekasihku tampan tidak berwajah biru seperti orang itu, “dia bukan El tunangan ku.” Sangkalku berulang – ulang, aku tahu itu hanya caraku melawan kenyataan faktanya aku tahu jelas siapa yang terbaring disana, aku mengenal baik sosok kekasihku, aku tahu walau aku tak ingin percaya itu adalah El pemilik hatiku.

Wajahnya membengkak penuh lebam karena ada benturan keras dikepalanya, otaknya hancur mengalami pendarahan yang hebat, El kehilangan keseimbangannya saat mengendarai motor hingga ia menabrak sebuah mobil dan disusul hantaman truk dari belakang —mereka menceritakan kronologis kejadian saat itu, hatiku hancur mendengarnya, seharusnya ia di rumah sekarang, seharusnya ia tak perlu menjemputku, seharusnya —yah seharusnya.

……

Sudah seminggu El dirawat di rumah sakit, dan selama seminggu pula aku selalu menemaninya berusaha tegar agar menjadi kekuatan untuknya —untuk pria yang kucintai ini.

“El coba lihat, kau suka tidak dengan penampilanku.” Ucapku padanya yang masih terbaring koma, wajahnya semakin membengkak karena pendaran hebat pasca operasi, tidak ada lagi El ku tampan; bahkan hidung bangirnya kini seolah menyatu dengan pipinya yang bengkak, aku memutar – mutar badanku memamerkan dress yang dibelinya bulan lalu sebagai hadiah ulang tahunku, dress putih sepanjang lutut bermotif bunga matahari, ini kali pertama aku memakainya, “bagus tidak?” Tanyaku sekali lagi dan tetap tanpa jawaban, lagi – lagi tangisku pun pecah, “sayang bangunlah, kau tidak kasihan denganku? Lihat aku semakin kurus, kau tidak suka aku kurus kan?” Isakku pun mengalir begitu saja. Ya Tuhan jika boleh aku meminta beri masa hidupku untuknya ijinkan aku memhabiskan hari ku bersamanya.

Total 8 jam sudah El berada diruang Operasi, pendarahan di otaknya harus segera dibersihkan, kami semua menunggu dalam keresahan dapat kulihat mama El terdiam duduk di depan pintu ruangan itu ia tidak menangis sama sekali namun raut kelelahan nyata terlihat, Bet yang hyperactive pun seolah kehilangan tenaga untuk bergerak ia hanya duduk lagi-lagi menatap lantai, kuhampiri wanita yang begitu dicintai kekasihku itu kegenggam tangannya, ia menatapku dan tersenyum tipis wajahnya tetap cantik walau keriput mulai menghiasi disana.

Setelah total 9 jam kumpulan dokter pun keluar dari ruangan yang kini begitu akrab di mata kami, paman El dengan segera menghampiri dokter itu sedangkan kami hanya terduduk melihat mereka bercakap, dokter itu menggeleng kan kepalanya lalu menepuk pundak laki-laki yang sudah dianggap ayah oleh El itu, aku tahu apa maksudnya aku paham tapi aku tak mau percaya, kulihat Bet berlari cepat kedalam ruangan operasi itu, begitu juga dengan Mama El lalu kudengar tangisan mulai memenuhi ruangan itu, dengan langkah tertatih aku memasuki ruangan itu, kulihat El disana terbaring dengan wajah yang bengkak mengenakan baju terusan berwarna hijau, begitu tenang —ia benar – benar sembuh.

“El, bangun sayang.” Ucapku menyentuh pelan tangannya, perlahan kelebat – kelebat kepingan memori mulai bermunculan di kepalaku, ekspresinya saat marah, merajuk bahkan saat ia menggoda dengan kata-katanya yang luar biasa mesum itu, mimpinya, cita-cita yang ingin diwujudkannya.

“Aku ingin membuat buku berisi motifasi untuk anak-anak agar meraih cita-citanya.” Ucapnya saat itu dengan mata berbinar menatap langit, ada kesungguhan ditiap ucapannya.

“Kalau begitu kau harus membuatnya.” Ucapku mengepalkan tangan kearahnya memberi semangat.

“Dan kau harus menemaniku.” Pintanya yang membuatku tersenyum, dia tak perlu meminta aku akan melakukannya.

Saat itu saat kami sedang duduk berdua ditaman, ia bercerita tentang keinginannya mengunjungi suatu tempat, “aku ingin sekali ke Italy.” Ceritanya saat itu.

“Aku ingin keliling Eropa.” Lanjutku menimpali.

“Kalau begitu mari kita keliling Eropa bersama.” Ia menggenggam tanganku saat mengatakannya, dan kami pun tersenyum bersama, lagi-lagi ada janji yang kami semat.

……

“Aku ingin membangun rumah susun untuk anak-anak jalanan itu.” Ucapnya ketika melihat kumpulan anak-anak yang tertidur dikolong jembatan didalam mobil sehabis menjemputku dari kampus, aku bangga padanya, ia memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi saat itu aku hanya berdoa agar Tuhan mengabulkan semua permohonannya.

……

Semua kenangan atasnya membanjiri ingatanku seolah-olah baru saja terjadi, “El, kau punya hutang padaku, kau harus membayarnya, kita belum keliling eropa, kau belum mengajakku ke Italy, kau bahkan belum menerbitkan sebuah buku, lalu mana Rumah susun yang kau janjikan?” Tagih ku satu – persatu namun tak ada jawaban, aku mulai mengguncang – guncangkan tangannya dengan kencang berharap ia terbangun, “El mana janjimu kita akan menua bersama, kenapa kau justru meninggalkanku.” Tangisku pecah tak lagi dapat kutahan.

Kurasakan tepukan lembut di pundakku, mama El disana ia tersenyum kecil namun air matanya tetap mengalir, wanita ini jauh lebih terluka dariku lalu aku memeluknya dengan erat —menangisi diri kami yang sedih ditinggal orang terkasih.

……

Lima bulan sudah sejak kepergiannya, matahari tetap terbit, hari ku terus berlanjut, tak ada lagi sapaan hangatnya setiap pagi, matahari tetap menyinari bumi tapi matahari yang membuat hari ku cerah sudah tak ada lagi, detik demi detik, jam demi jam kulalui semua tetap sama tapi bahagia itu sudah tak ada lagi.

Ia membuat pagiku indah
Malamku menjadi cerah
Ketika ia pergi tak ada lagi keindahan
Pekat melebihi malam menyelimuti

“An bareng yu pulangnya?” Ajak Aling salah satu sahabatku

“Aku mau mampir ketoko buku dulu Ling.” Tolakku dengan halus, aku hanya ingin sendiri saat ini.

Disini sekarang aku berada distasiun kereta yang masih sepi di jam – jam seperti ini, kupandangi stasiun kereta yang menjadi tempat dimana aku pertama kali bertemu dengan El.

……

Saat itu ia duduk di salah satu bangku tunggu memakai pakaian putih kepalanya mengangguk – angguk kecil menikmati lagu yang disuguhkan oleh earphone yang menempel dikedua telinganya yang bertindik, entah kekuatan magis apa yang dimilikinya sehingga membuatku memperhatikannya terus hingga kereta yang ku tunggu pun tiba ternyata ia menaiki kereta yang sama, saat itu aku tak mendapat tempat duduk dan dengan senyum yang mengembang ia memberikan tempat duduknya untukku.

……

Klise tapi itulah awal pertemuan kami.

Kereta yang kutunggu akan tiba beberapa menit lagi dengan tenang aku menunggu ditemani kepingan – kepingan ingatan yang mulai menyusun puzzle, lagi – lagi air mataku tumpah, hatiku sakit tiba – tiba kepingan ingatan itu muncul.

……

Siang itu kami berencana mengabiskan waktu berdua dengan menonton film, ia membawa beberapa keping DVD bajakan yang dibelinya dijalanan untuk kami tonton, salah satu film yang dibelinya adalah Romeo and Juliet —film lama yang sangat ia suka entah berapa kali ia sudah menontonnya, “ini lagi?” Tanya ku saat itu sambil menatap sengit wajahnya, ia hanya tersenyum lebar, “apa bagusnya coba ini kisah, kenapa harus diakhiri dengan bunuh diri.” Sungutku kesal, karena aku tahu berapa banyak pun kepingan dvd yang dibawanya film inilah yang pertama kali harus ditonton.

“Begitulah cinta, ketika hati sudah menyatu akan ada hampa yang kita rasakan ketika harus kehilangannya.” Ucapnya saat itu.

……

Sekarang aku tak lagi menganggap kisah itu buruk lebih baik tidak saling mengenal sejak awal jika harus berakhir dengan perpisahan, kepergiannya meninggalkan lubang yang terus menganga dari waktu ke waktu.

Suara yang memekakkan telinga tanda kereta api akan tiba mulai terdengar kulihat ada cahaya merah dikejauhan, entah bagaimana aku sudah turun dari peron berjalan mengitari rel tempat kereta akan lewat, kudengar suara petugas berteriak menyuruhku untuk kembali ke atas, orang-orang mulai berteriak namun kutulikan telingaku dengan mantap kutelusuri rel mendekati bongkahan besi berkecepatan tinggi itu sampai sebuah tangan menarikku cepat kepinggir tepat saat kereta melaju hembusan angin kencang meniup keras suraiku mataku terpejam erat, udara terasa susah untuk dihembuskan.

“BODOH.” Teriak suara disampingku tangannya masih menggenggamku erat.

“Kenapa kau menarikku, kenapa kau tak biarkan saja kereta itu menabrakku.” Teriakku kearahnya.

PLAK

Sebuah tamparan mengenai pipiku keras, aku hanya terdiam tidak sakit sama sekali, “kau pikir aku akan membiarkanmu mati didepanku yang justru sedang berjuang untuk hidup?” Teriaknya tepat dihadapanku, mata hitam besarnya memicing, wajah putihnya memerah penuh amarah, badannya tidak lebih besar dariku tapi ia mampu menarikku dengan kuat keluar rel itu, aku terduduk menangis keras memukul-mukul dadaku yang sakit entah siapa yang mendahului kini aku sudah berada dalam pelukannya, pelukan pria kecil yang menggagalkan aksi bunuh diriku, ia mengusap – usap punggungku dalam pelukannya.

……

“Jangan pernah coba bunuh diri lagi, mengerti.” Titah laki – laki kecil itu, saat ini kami sedang duduk disalah satu coffe shop tak jauh dari stasiun, “oh yah siapa namamu?” Tanyanya sambil memandang mataku lekat, dalam jarak seperti ini aku dapat melihat jelas wajahnya, walau dalam keadaan duduk aku dapat menebak tingginya sekitar 170, dia murid SMU kasih bunda terlihat dari seragam yang dikenakannya, “hei siapa namamu?” Tanyanya sekali lagi karena aku tak juga menjawab pertanyaannya, belum sempat aku menjawab terdengar dering handphone yang bukan milikku —aku tidak mungkin memakai ringtone lagu korea.

Waeyo eomma?” Jawabnya pada orang yang menelponnya, “maaf mam kelepasan, jadi ada apa mama?” Ulangnya, selama ia sibuk bercakap – cakap dengan ibunya —ia memanggil dengan sebutan mam tadi, aku lagi – lagi memperhatikannya kulitnya berwarna putih pucat, bibirnya berwarna merah bibir bawahnya sedikit lebih tebal dari bibir atasnya, ia mempunyai senyum yang indah, selama mengobrol ia berulang kali merapikan poni rambut hitamnya yang sesekali terjatuh menutupi alis matanya, “oke mam.” Ucapnya mengakhiri pembicaraan.

“Jadi siapa namamu?” Tanyanya dengan pertanyaan yang sama, dan aku lagi – lagi hanya melihatnya, “tsk, kau tak ingin menjawabku? Baiklah aku akan memperkenalkan namaku lebih dulu.” Ucapnya sambil mengulurkan tangan kearahku, aku terdiam tak berniat meraih tangannya, dengan sedikit kesal ia menarik tanganku paksa lalu menggenggamnya dan menggoyangnya keatas kebawah seperti layaknya orang bersalaman. “Namaku Alan Liem.” Ujarnya sambil tersenyum lebar yang mampu membuat debaran kecil didadaku, kulihat ia menaik turunkan alis tebalnya lalu menambah kekuatan dalam genggaman tangannya, aku mengerti apa maksudnya.

“Aku Anna.” Jawabku dengan suara pelan.

Well Anna nama yang cantik secantik orangnya.” Ujarnya lagi – lagi dengan senyuman bodoh yang sialnya sungguh memikat, lalu ia memanggil salah satu pelayan hendak membayar pesanan kami, tentu aku melarangnya coffe disini sungguh mahal anak SMU sepertinya mana sanggup membayar, tapi ia melarangnya dengan tegas dia bilang dengan gayanya yang jenaka ia anti ditraktir apalagi oleh perempuan ‘mau taruh dimana harga diriku’ katanya.

“Boleh kupinjam handphone mu.” Ucapnya saat itu.

“Untuk apa?”

Ia memutar bola matanya sebelum menjawab, “untuk menelpon lah cantik, masa untuk ngulek cabe.” Ucapnya menggodaku dengan nada bercanda —dia bahkan masih sekolah sudah berani – beraninya menggodaku, “pulsaku habis.” Lanjutnya saat menyadari tatapanku menajam kearahnya, aku pun meminjamkan handphone ku, lalu kulihat ia menekan angka – angka yang sepertinya sudah ia hapal diluar kepala sampai terdengar dering handphone yang berasal dari saku celananya —ternyata ia ingin menyalin nomor ponselku dengan cara yang sungguh klasik, “baiklah aku sudah menyimpan nomor ponselmu tunggu saja aku akan menghubungimu.” Ucapnya seolah – olah aku mengharapkan teleponnya saja, “baiklah aku pergi, jangan coba bunuh diri lagi ne! Nanti oppa marah.” Titahnya dengan bahasa korea yang sering aku dengar di drama – drama, malas menjawab aku hanya menganggukkan kepala kearahnya.

Ppapai.” Lalu ia pergi sambil melambai – lambaikan tangannya, sedangkan aku hanya bisa tersenyum memandang punggung kecilnya yang semakin menjauh tanpa tahu takdir seperti apa yang menanti kami.

FIN

Hoaaaaahhhhh *lap keringet*
Tks buat someone yang namanya aku pakai semua, karena hanya namamu yang ada dalam otakku saat ini “etjieeeeeee”
Ok komen dong…
God bless

Advertisements

2 thoughts on “Takdir

  1. baguuuus kereeen tulisannya hehehehehe 😀
    rapi dan feelnya duapeeeeeet banget..
    kasian mikael nya hahahaha tertabrak truk trus koma dan titik kkk..
    pointnya tulisannya rapi as always 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s