Time

Ia berjalan konstan,
tak pernah terlambat atau bahkan datang terlalu cepat,
tepat dan selalu sama.
Ia tak pernah berniat melongok kebelakang
menunggu mereka yang asik melupakan dirinya,
kemudian berteriak menyadarkannya.
ia bahkan tak memiliki telinga untuk sekedar mendengar ratapan pilu
lalu berhenti sejenak menunggu buliran kesedihan itu sirna.
Tidak, ia tak diciptakan untuk itu.

Ia tetap berlari menyerap kehidupan perlahan,
ada yang menyadari kemudian berusaha mengimbanginya dengan segudang prestasi atau berbagi cinta dengan yang terkasih,
namun ada pula yang tak menyadari lalu membiakannya berlari,
tanpa sadar kemudian kehidupan terserap habis dengan kelalaiannya.

Ia tak pernah bersembunyi,
Ia bukan pencuri dimalam hari,
Ia nyata dan pergerakannya terbaca,
Ia tak pernah pilih kasih, membagi semua sama rata,
Ia berjalan konstan membawa kehidupan pada akhirnya.

Ia bisa menjadi teman dan monster yang mematikan
Ia, adalah waktu…

IMG_5666

Welcome February 01, 2015~

You.

Dearest My love.

Hai sayang, kau tau tidak? Malam di mana aku menulis surat ini aku sedang merindukan dirimu, ah kenyataannya aku selalu merindukanmu tidak hanya di malam ini tetapi juga di malam-malam sebelumnya.

Tidak terasa sudah beberapa lembaran kalender terlewati sejak kita mengubah status pertemanan menjadi kekasih.

Tawa dan airmata menemani perjalanan kita, semua hal tersimpan rapih di hatiku tidak ada yang terlewati, jika ada yang bertanya mengapa aku jatuh cinta padamu? Aku akan sangat kesulitan menjawabnya karena semua dari dirimu aku menyukainya dan itu alasan aku jatuh cinta atau mungkin ada alasan yang lebih kompleks lagi, yang jelas aku menemukan diriku dalam keadaan jatuh cinta padamu.

Kau ingat tidak? Beberapa bulan lalu kita melewati masa-masa yang sulit, yah memang sejak awal jika ingin dirunut hubungan kita memang sulit atau mungkin tak biasa, tetapi beberapa bulan lalu adalah masa yang berat untuk kita, aku dan kamu bahkan sempat terpikir untuk menyerah namun sepertinya cinta kita terlampau besar dari masalah itu hingga kita memutuskan untuk bertahan dan aku mensyukuri keputusan itu.

Bersamamu adalah salah satu hal terbaik yang pernah kulewati

Aku tidak pernah tahu masa depan itu seperti apa, kita akan bersama selamanya atau tidak pun aku tidak dapat menebaknya selalu ada kejutan di setiap jalan kehidupan yang kita tapaki, namun apapun itu kamu adalah bagian dalam hidupku yang selalu aku syukuri kejadiannya dan jikapun waktu dapat diulang aku ingin bertemu dan jatuh cinta lagi denganmu ribuan kali.

Seperti yang kubilang aku tak pernah tahu tentang masa depan, yang aku punya hanya harapan, dan harapanku kita dapat bersama selamanya serta menjadikan impian kita nyata.

I love you

2015/01/img_5653.jpg

Note : Ditulis untuk 30 hari menulis surat cinta hari ke – 2

Aku adalah Mimpiku

Aku dengan segala mimpiku.
Mereka boleh mengecilkannya, menjadikannya bahan dagelan yang sedap tuk ditertawakan atau menjadikannya alasan untuk berdecih.
Namun mereka takkan mampu menggoyahku untuk berlari meraihnya.

Mereka boleh mengikat kakiku, atau membebatnya kencang dengan kain yang tak dapat kuhitung panjangnya, mungkin ribuan hasta, ah mungkin sepanjang inginnya.
Namun mereka takkan mampu mengikat hatiku yang liar mencari celah tuk ku terbang.

Mereka boleh mengurungku dalam keindahan angan mereka,
Namun mereka lupa ada satu hal yang tak dapat dikurung dariku,
Pikiranku.

Jika mereka memotong kakiku, dengan tangan aku merangkak.
Jika mereka memotong tanganku, aku akan berguling.
Jika mereka memotong tubuhku, maka
Pikiranku yang akan menjangkau mimpiku.

Tak peduli sepelan apa aku berjalan, tapi berhenti bukanlah pilihanku.

(Aku menulis ini sudah lama, beberapa tahun yang lalu.)

DON’T YOU DARE

IMG_5366.JPG

Tittle : Don’t you dare

Cast : Jaejoong – Yunho – Ahra

Duration : Vignette

Audience : PG – 17

Genre : Thriller, Phsychology, Dark, Drama

Disclaimer : I am not, in any way, take any profit from the story. All real people are used without their permission. Events portrayed are fictional and do no reflect on the actual people within the stories. The contents are purely made for personal entertainment.

Summary,

Sudah kukatakan kau masih tak mendengar jangan salahkan aku, ini kulakukan karena cintaku.

DONT YOU DARE

Notes 1.

Bulir-bulir keringat mengalir membasahi wajah cantik itu, senyum manis yang selama ini menjadi ciri khasnya lenyap seketika digantikan ketakutan yang terpeta jelas. “Aku tidak mau mati, aku tidak mau mati.” Rapal gadis itu berulang bagai mantra sambil tetap memperhatikan target yang dihindarinya.

Gadis itu berjengit kala melihat pria berkaus putih tanpa lengan dengan sebilah kapak di tangan kanannya mulai mendekati posisinya berada, tiba-tiba dia menyesal mengapa ia begitu bodoh memilih tempat persembunyian yang bahkan anak kecil pun dapat dengan mudah menemuinya. Ketakutannya semakin menjadi-jadi saat mendengar suara lembut pria berkapak itu. “Ahra –ssi. Kau sudah menemukan tempatmu bersembunyi, eoh?” Suaranya begitu lembut mengalun bersenandung namun dengan tendensi yang luar biasa, gadis itu ketakutan; ia berharap ini semua lekas berakhir.

“Ahra –ssi!” Kata pria itu saat ia berhasil menemukan targetnya yang bersembunyi di jejeran baju-baju yang tergantung. “Bingo.”

Gadis itu terpekik saat pria dengan kapak di tangannya itu menemukannya bersembunyi di dalam lemari baju di kamarnya yang berukuran cukup besar dengan menyentak pintu yang sudah ditekannya dengan kuat, namun sebesar apapun tenaganya ia akan kalah dengan tenaga seorang pria yang sedang kerasukan.

Ouch, lingeriemu banyak sekali.” Ucap pria itu sambil menarik satu buah lingerie berwarnah putih dengan model slutty nurse yang tergantung disana. “Ini bagus sekali,” matanya terbelalak kemudian dengan semangat menempelkan lingerie itu pada dirinya lalu berputar-putar sambil tertawa.”Apa aku cocok memakainya, ehm? Tanyanya pada gadis itu sambil menyeringai, alih-alih menjawab gadis itu justru semakin gemetaran sambil menggigiti ujung kukunya —kebiasaannya saat ketakutan.

“Kenapa kau diam?” Tanyanya lagi dengan tampang yang terlihat begitu polos membuat gadis itu bertanya-tanya dalam hati mengapa pria ini bisa datang ke tempatnya dengan sebilah kapak padahal sejak tadi ia sudah berpikir keras tentang kesalahan apa yang ia perbuat namun hasilnya nihil. “Ah, lagi pula aku tak suka modelnya, apa kau menggunakannya untuk menggoda para pria, Ahra –ssi?” Sontak gadis itu semakin takut ia dapat merasakan kemarahan yang besar pada kalimat terakhir yang diucapkan pria itu.

Pria itu mendekati gadis yang meringkuk ketakutan di dalam lemari yang terbuka lebar, ditatapnya lamat-lamat gadis yang kini wajahnya telah memucat bagai mayat, dicengkramnya kasar rahang gadis itu. “Aku sudah memperingatkanmu untuk menjauhinya, tapi otakmu terlalu kecil untuk mengerti, kau malah mengabaikannya.” Katanya sambil melepaskan cengkraman dengan kasar.

“Ap-apa yang kau maksud?”

Pria itu menatap gadis itu lama seolah ingin menelannya. “Aku hanya punya dia di dunia ini Ahra –ssi,” dihirupnya udara banyak-banyak kemudian mengembuskannya perlahan. “Sedang kau memiliki segalanya, tapi kenapa kau ingin mengambilnya dariku?”

“Kau ini bicara apa sebenarnya?” Cicit gadis itu mulai memberanikan diri.

Pria itu menjambak keras rambut gadis itu lalu menariknya keluar dari dalam lemari. Sontak membuat gadis itu memekik keras. “Lepaskan aku.” Mohonnya dengan airmata yang sudah berjatuhan.

“Siapa yang memperbolehkanmu bicara?”

“Ta-ta—”

“Diam kubilang, dasar jalang!” Bentak pria itu seraya memotong kata-kata yang tengah terlontar sambil memejamkan matanya seolah menahan amarah. “Kau harus mendapatkan hukuman karena berani mendekati priaku, dan mengabaikan pesanku.” Katanya sambil menarik tinggi-tinggi kapak dalam kedua genggaman tangannya.

Gadis itu mulai mengingat-ingat menyusun kepingan puzzle dalam otaknya; pria, pesan, hidup sendiri, seketika matanya terbelalak. “Yu-yunho? Jung Yunho?”

Pria itu tersenyum lembut mendengar cicitannya seolah kemarahannya lenyap kala gadis itu menyebut nama Jung Yunho membuat ayunan kapaknya tertahan di udara. “Kau ingat sekarang, jalang?” Tanyanya seketika wajahnya kembali mengeras dan kembali mengambil ancang-ancang berniat mengakhiri semua ini. “Ucapkan selamat tinggal pada dunia, Ahra –ssi.”

.

.

.

SRAK

.

.

.

Meleset alih-alih mengenai kepalanya, kapak itu justru mengenai pundak gadis itu. “ARGHHHHHH..!” Erang gadis itu dengan suara yang keras kala kapak yang menancap pada pundaknya ditarik paksa. “I-ini sa-salah paham ka-kau harus de-dengar.” Jelas gadis itu berusaha menahan sakit, pakaian yang dikenakannya kini ternodai begitu banyak darah yang merembes. Dengan rasa sakit yang luar biasa dan sisa-sisa kekuatan yang dimilikinya, gadis itu berusaha kabur mencoba memperpanjang jaraknya dengan pria berkapak itu saat pria itu terdiam karena kelelahan.

“Ahra –ssi kemarilah aku sudah lelah bermain petak umpat.” Rajuk pria itu kala mengejar gadis yang kini kembali mencoba bersembunyi. “Sial setidaknya tahan darahmu saat berlari jangan mengotori lantai, tsk kau membuat pekerjaanku semakin banyak saja.” Omel pria itu saat melihat tetesan darah di lantai ruangan itu, dan tetesan darah itu juga yang membawanya pada tempat persembunyian gadis incarannya.

Wajahnya memutih karena kehabisan darah, ia kini bersembunyi di dalam kamar mandi menormalkan napasnya yang terputus-putus sambil mendudukkan dirinya pada closet tungkainya begitu lemas untuk sekedar digerakkan, ia ingin beristirahat walau sejenak sampai ia merasakan sebuah guncangan pada pintu kamar mandi. “Sial aku tak membawa ponsel.” Rutuknya saat meraba saku celananya dan ia tak menemukan ponselnya disana. Pening di kepalanya kini semakin menjadi-jadi, ia menyesal seandainya ia tak menggubris pesan yang mengancamnya saat itu.

.

DUAK

.

DUAK

.

DUAK

.

“Buka pintunya jalang.” Pria itu mulai menggedor-gedor pintu yang sengaja dikunci dari dalam itu. “Kubilang buka.” Teriaknya lagi.

.

DUAK

.

DUAK

.

DUAK

.

“Sial, kau menambah pekerjaanku saja; mengepel darahmu yang berceceran, dan memperbaiki pintumu yang akan kuhancurkan sebentar lagi.”

.

SRAK

.

Pintu itu terbuka, menampilkan pria yang kini sedang menyunggingkan senyumnya saat melihat wanita itu disana tengah tepekur ketakutan. “I-ini sa-salah pa-ham, kau ha-rus men-dengar-kan ku.” Ucap gadis itu terbata-bata.

“Jelaskan nanti di neraka, cantik.”

Itu menjadi ucapan terakhir yang didengar gadis itu sebelum sebilah kapak menyentuh tengkorak kepalanya dengan keras.

Pria itu tersenyum sambil menyeka cipratan darah kental yang mengenai wajah dan tubuhnya. “Ini harga yang pantas dibayar oleh orang yang berani merebut Yunho ku.”

.

.

.

.

.

.

[Epilog.]

“Kau ini kenapa Yunho?” Tanya pria yang kini tengah asik bersandar pada bahu pria yang dipanggilnya Yunho itu, pagi-pagi Yunho sudah datang ke rumahnya dengan wajah tertekuk.

“Ahra, Jae.” Katanya menjawab pertanyaan Jaejoong sahabatnya sejak kecil.

Pria itu menghela kasar napasnya lalu memandang Yunho, menatap pria yang wajahnya terpahat sempurna itu; rahangnya yang nyata dan kokoh, matanya yang tajam dan bibir yang sempurna, wajah yang selalu mampu membuat hatinya berdesir hebat.

“Yunho –yah, Ahra hanya pergi ke Jepang mengurus pekerjaannya disana. Kau yang bilang begitu bukan?” Yunho mengangguk.

“Ia kau benar, tapi tak biasanya ia hanya mengirim pesan padaku, lagi pula ponselnya tak aktif.” Gerutu Yunho yang membuat Jaejoong tersenyum.

“Mungkin ia sedang sibuk.” Kata Jaejoong sekenanya, ia bersyukur ia tidak lupa mengirimi pesan menggunakan ponsel Ahra yang sudah dibuangnya di sungai Han malam itu. “Sudahlah, tunggu sebentar aku akan membuatkanmu minum.” Ujar Jaejoong —pria itu lalu bangkit bermaksud ke dapur membuat minuman.

“Tidak perlu biar aku saja yang membuatnya. Kau terlihat lelah joongie.” Katanya menghalangi maksud Jaejoong sambil menjawil gemas hidung mancung sahabatnya sejak kecil itu. Lalu pergi menuju dapur sambil mengotak-atik ponselnya hendak mengirim pesan.

.

.

.

Kepada : Ahra

Yah, kemana kau? Mana barang yang kupesan? Aku tak sabar memakaikan cincin itu pada jari ramping Joongie ku, sekaligus mengatakan bahwa kau sepupuku bukan kekasihku, akhir-akhir ini dia suka merajuk. Apa ia masih suka mengirimimu pesan?

Kirim

.

.

.

Setelah memastikan pesannya terkirim ia meletakkan kembali ponselnya pada caruk saku celana yang ia kenakan lalu bergegas ke dapur untuk membasahi tenggorokannya yang kering. Dengan langkah riang diambilnya sebuah gelas lalu membuka lemari pendingin berukuran besar yang terletak di sudut ruangan dapur yang tertata apik, mengingat dapur adalah tempat favorit Jaejoong.

.

.

.

PRANK

.

.

.

“Yunho –yah ada apa?” Tanya Jaejoong dengan napas tersengal-sengal, ia berlari bak kesetanan begitu mendengar suara-suara nyaring dari arah dapur dan betapa terkejutnya ia saat melihat Yunho meringkuk bersandar pada lemari kayu berwarna hitam tempat Jaejoong menyimpan peralatan masaknya. Pandangan matanya mengikuti arah pandang Yunho, “Sial aku lupa membereskan potongan kepala Ahra yang kutaruh di kulkas.” Rutuknya pelan namun masih dapat di dengar dengan jelas oleh Yunho.

“Ja-Jaejoong.”

“Akan kujelaskan, Yunho –yah.”

.

.

.

Notes 1 finish.

.

.

.

Nb : Saya mau jelasin tulisan ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan Jaejoong – Yunho – Ahra dikehidupan nyata. Jaejoong terlalu lembut, terlalu unyu untuk main-main dengan kapak dan darah. Cukup Lizzie Borden aja yang main-main dengan kapak. Kalau Jaejoong main sama jiji aja. XD

Cuap-cuap penulis.
Aku mau ucapin terima kasih buat Riris – @Rizuki29 (nunanya Chanwoo (katanya)) yang pagi-pagi udah mau liatin tulisan ini dan mengkoreksinya, ahhh you don’t know how happy i am

Happy New year guys, kemana aja nih tahun baru?
Sok kenal banget yah aku? Aku berharap ceritaku ini sedikit menghibur di tengah-tengah liburan kalian.

Mind to review or coment ?

#ketjup

Falling in Love

Cast is not mine, forever not mine, but the story line is mine
Cast : Lu Han (EXO), Rin (OC)
Ficlet with Lenght 3++ words
Rate : PG 15

Rin menatap kosong TV Plasma 42 inci yang tergantung apik di dinding rumahnya saat acara yang ia tonton kembali memuat isi berita yang seminggu ini begitu santer dibicarakan. Lu Han, actor papan atas kedapatan berkencan dengan actress Im Yoona yang juga lawan mainnya dalam drama terbaru yang mereka bintangi…, belum selesai berita itu dibawakan Rin sudah lebih dulu mematikan TVnya pikirannya melayang – layang pada kejadian semalam.

“Rin maafkan aku.” Ucap Lu Han sambil terus menggengam jari – jari lentik wanita yang sudah setahun ini menjadi kekasihnya.

“Maaf untuk apa?” tanya Rin Lirih.

“Kau pasti sudah mendengar berita itu kan?”

Keduanya terdiam lama sibuk pada pikirannya masing – masing.

“Han.” Rin memecah keheningan yang beberapa waktu lalu tercipta.

“Hem.”

“Kau tahu tidak mengapa kata cinta disandingkan dengan kata jatuh?” Tanya Rin tiba – tiba, matanya memandang lembut wajah Lu Han yang penuh gurat kelelahan, Lu Han mengeleng. membuat Rin tersenyum memandang ekspresi kebingungan di wajah tampan kekasihnya itu. “Kau tak tahu?” tanyanya lagi seolah ketidaktahuan Lu Han adalah sesuatu hal yang lucu.

“Tidak.” Jawab Lu Han singkat.

“Cinta adalah kebahagian yang semua orang di dunia ini cari, dan mati – matian mempertahankannya, sedang jatuh adalah simbol dari sakit, sedih, perih dan semacam perasaan serupa lainnya.” Ucap Rin perlahan sambil tersenyum.

“Maksudnya?” tanya Lu Han yang masih tidak mengerti.

Rin menyugar poni rambut yang mulai menutupi matanya kesamping kiri kemudian menjepitnya dibelakang telinga, lalu kembali memandang Lu Han lebih dalam dari sebelumnya dan berkata. “Jatuh cinta berarti sesuatu yang dipertahankan mati-matian walau itu sakit, karena kebahagiaan dari cinta mengalahi rasa sakit yang dibawa cinta itu sendiri.”

Lu Han terdiam mendengarnya, ia memikirkan perkataan yang diucapkan kekasihnya itu

“Kau tahu? Saat aku melihatmu di depan pintuku, saat itu kebahagiaanku datang dan kata maap tak lagi penting.” Ucap Rin lalu membelai lembut wajah Lu Han, mengecup hidung mancungnya, dan kembali berucap. “Cukup katakan kau cinta padaku maka kesalahanmu tak ada lagi.” Lu Han menangis mendengarnya, ia tahu ia pasti dimaapkan, ia tahu kekasihnya ini punya segudang maap atas segudang kesalahan yang ia perbuat.

Dering ponsel yang menggema membuyarkan lamunan Rin, diraihnya ponsel yang berada tidak jauh dari tempatnya sekarang, senyum lebar menghiasi wajah gadis itu ketika melihat nama yang tertera disana —my Lovely Lu Han. Dengan semangat ia menerima panggilan Itu, melupakan berita barusan yang kembali membuatnya kalut.

Fin

Lagi nulis update-an cerita malah kepikiran plot ini, mungkin juga karena kejadian yg baru terjadi, cerita ini memang menggambarkan perasaan saya saat ini, XD HAHAHAHA —bukan diduainnya loh, tapi konsep cintanya, cinta itu yah memaafkan (apa sih ini malah curhat) heheheh

Boleh komennya…