My Future

  
Habis Menonton Drama India tadi, Entah mengapa jadi mengharu biru, terus terucap doa dan harapan di dalam hati.

Allah ku, Aku Tidak mengharapkan pria nan rupawan untuk menemaniku hingga hingga habis dayaku, Tidak, aku tidak butuh itu, Aku juga tidak butuh pria kaya berlimpah harta, cukup pria yang bertanggung jawab dan mau bekerja, karena aku percaya rezeki akan selalu datang buat mereka yang mau berusaha. 

Aku hanya butuh pria yang menerimaku apa adanya dengan segala kekurangan yang aku punya, karena akupun akan melakukan hal serupa untuknya, Aku butuh pria yang mencintai Engkau, membangun hubungan kami diatas RestuMu, diatas perintahMu dan mencintaiku karena Engkau.

Jodohkan Aku pada Pria yang bukan hanya menjadi teman hidupku, namun ia juga dapat menjadi ayah yang baik bagi anak-anakku kelak, yang akan memukul anakku dengan perkataan bijaknya, bukan dengan rotan, menjadi sahabat bagi mereka, menjadi contoh bagi mereka, Ayah yang memberi kasih sayang melimpah hingga mereka tak lagi mengais kasih sayang di luar rumah, Ayah yang mengajarkan mereka tentang Engkau membimbing mereka kepada Engkau. 

Lalu terakhir, Pantaskan aku untuk menjadi istri dan Ibu yang baik serta bijaksana buat keluarga yang kelak akan kau beri padaku, biarkan segala hal telah aku lalu membentukku menjadi wanita yang lebih baik.

Amin. 

Refleksi.

Untuk mu sang pemilik hati.

Ya, aku memang sinting yang memilih menuangkan sesalku pada rangkaian kata yang membentuk prosa menggelitik relung, ingin rasanya berteriak mengurangi sedikit sesak yang menghimpit ruang-ruang di dadaku, aku ingin marah membanting semua yang terjangkau indraku berharap lenyap kekesalan yang mengembang sekejap secepat cahaya karena cinta dan penantianku harus terhambat sebab ketakutan yang kau ciptakan dalam ruang kecil di kepalamu tanpa mau membaginya hingga membuatku menciptakan skenario kejam dengan judul kisah nyata namun sebenarnyan hanya sebuah cerita dari refleksi kemarahan dan kekecewaan.

Kau dengan segala imaginer yang terbentuk dari pola-pola masa lalu yang membuatmu menggelung hangat dalam cangkang ketakutan yang melindungimu, tidak, aku tidak sekejam itu untuk tak dapat mengerti lalu serta merta menarikmu begitu saja keluar tertepa panas matahari yang tak biasa kulitmu rasakan, aku hanya ingin berbagi cangkang denganmu, membukanya perlahan demi perlahan meyakinkanmu bahwa hangat matahari takkan menyiksamu.

Aku tak ingin melihatmu dari luar bersembunyi di dalamnya, aku ingin membagi cahaya redupku padamu, ribuan ketukanku kau tolak dengan dalih tak ingin sinar diluar memaksa masuk ketika kau membuka pintu, kau bahkan terlalu pelit membagi sedikit tempat untukku dalam perlindunganmu, disaat bersamaan kau mengambil hatiku membawanya habis ke dalam pelukanmu hingga membuatku tak dapat beranjak dari tempatku bahkan kata lelah seolah lenyap dalam kosakata kamus hidupku, ah tidak bukan kau yang mengambilnya namun aku si bengal ini yang memberinya.

Sebutlah aku sinting karena bersedia menunggumu walau puluhan tahun untuk kau keluar dari persembunyianmu, sebab mengenggammu dan berbagi hangatnya cahaya adalah impianku, walau harus dibayar dengan sakit dan sesak yang candu.

Note : Open the door please.

Surabaya, February 01, 2015.

Time

Ia berjalan konstan,
tak pernah terlambat atau bahkan datang terlalu cepat,
tepat dan selalu sama.
Ia tak pernah berniat melongok kebelakang
menunggu mereka yang asik melupakan dirinya,
kemudian berteriak menyadarkannya.
ia bahkan tak memiliki telinga untuk sekedar mendengar ratapan pilu
lalu berhenti sejenak menunggu buliran kesedihan itu sirna.
Tidak, ia tak diciptakan untuk itu.

Ia tetap berlari menyerap kehidupan perlahan,
ada yang menyadari kemudian berusaha mengimbanginya dengan segudang prestasi atau berbagi cinta dengan yang terkasih,
namun ada pula yang tak menyadari lalu membiakannya berlari,
tanpa sadar kemudian kehidupan terserap habis dengan kelalaiannya.

Ia tak pernah bersembunyi,
Ia bukan pencuri dimalam hari,
Ia nyata dan pergerakannya terbaca,
Ia tak pernah pilih kasih, membagi semua sama rata,
Ia berjalan konstan membawa kehidupan pada akhirnya.

Ia bisa menjadi teman dan monster yang mematikan
Ia, adalah waktu…

IMG_5666

Welcome February 01, 2015~

You.

Dearest My love.

Hai sayang, kau tau tidak? Malam di mana aku menulis surat ini aku sedang merindukan dirimu, ah kenyataannya aku selalu merindukanmu tidak hanya di malam ini tetapi juga di malam-malam sebelumnya.

Tidak terasa sudah beberapa lembaran kalender terlewati sejak kita mengubah status pertemanan menjadi kekasih.

Tawa dan airmata menemani perjalanan kita, semua hal tersimpan rapih di hatiku tidak ada yang terlewati, jika ada yang bertanya mengapa aku jatuh cinta padamu? Aku akan sangat kesulitan menjawabnya karena semua dari dirimu aku menyukainya dan itu alasan aku jatuh cinta atau mungkin ada alasan yang lebih kompleks lagi, yang jelas aku menemukan diriku dalam keadaan jatuh cinta padamu.

Kau ingat tidak? Beberapa bulan lalu kita melewati masa-masa yang sulit, yah memang sejak awal jika ingin dirunut hubungan kita memang sulit atau mungkin tak biasa, tetapi beberapa bulan lalu adalah masa yang berat untuk kita, aku dan kamu bahkan sempat terpikir untuk menyerah namun sepertinya cinta kita terlampau besar dari masalah itu hingga kita memutuskan untuk bertahan dan aku mensyukuri keputusan itu.

Bersamamu adalah salah satu hal terbaik yang pernah kulewati

Aku tidak pernah tahu masa depan itu seperti apa, kita akan bersama selamanya atau tidak pun aku tidak dapat menebaknya selalu ada kejutan di setiap jalan kehidupan yang kita tapaki, namun apapun itu kamu adalah bagian dalam hidupku yang selalu aku syukuri kejadiannya dan jikapun waktu dapat diulang aku ingin bertemu dan jatuh cinta lagi denganmu ribuan kali.

Seperti yang kubilang aku tak pernah tahu tentang masa depan, yang aku punya hanya harapan, dan harapanku kita dapat bersama selamanya serta menjadikan impian kita nyata.

I love you

2015/01/img_5653.jpg

Note : Ditulis untuk 30 hari menulis surat cinta hari ke – 2

Aku adalah Mimpiku

Aku dengan segala mimpiku.
Mereka boleh mengecilkannya, menjadikannya bahan dagelan yang sedap tuk ditertawakan atau menjadikannya alasan untuk berdecih.
Namun mereka takkan mampu menggoyahku untuk berlari meraihnya.

Mereka boleh mengikat kakiku, atau membebatnya kencang dengan kain yang tak dapat kuhitung panjangnya, mungkin ribuan hasta, ah mungkin sepanjang inginnya.
Namun mereka takkan mampu mengikat hatiku yang liar mencari celah tuk ku terbang.

Mereka boleh mengurungku dalam keindahan angan mereka,
Namun mereka lupa ada satu hal yang tak dapat dikurung dariku,
Pikiranku.

Jika mereka memotong kakiku, dengan tangan aku merangkak.
Jika mereka memotong tanganku, aku akan berguling.
Jika mereka memotong tubuhku, maka
Pikiranku yang akan menjangkau mimpiku.

Tak peduli sepelan apa aku berjalan, tapi berhenti bukanlah pilihanku.

(Aku menulis ini sudah lama, beberapa tahun yang lalu.)